Bergerak Tumbuh, Mengantarkan Kebahagiaan dan Menggapai Mimpi bersama JNE
Cerita Bermula dari Mimpi Kecil
Tidak ada mimpi yang benar-benar mati seiring seseorang bertumbuh, tetapi memang terkadang mimpi itu hanya terlelap untuk bisa bangun di waktu yang tepat.
Termasuk dalam hal pendidikan, tidak semua orang bermimpi untuk menjadi seorang sarjana, apalagi untuk orang-orang kampung yang jauh dari kata mapan.
Realita hidup di desa membuat seseorang kerap melupakan mimpinya. Hidup untuk bekerja dan bekerja untuk sekadar hidup. Sedari kecil sudah membantu orang tua bertani, berdagang, dan banyak hal adalah sesuatu yang lumrah untuk anak-anak desa.
Cita-cita hanya ada di sekolah, sewaktu bapak guru menanyakan perihal cita-cita. Anak-anak sejak kecil ditanyakan cita-cita untuk jadi apa, tetapi selepas dewasa, kehidupan di desa kerap melupakan untuk bertanya kembali tentang mimpi dan cita-cita mereka.
Tuntutan ekonomi serta kebutuhan hidup di desa yang jauh dari hingar bingar perkotaan membuat anak yang tumbuh dewasa perlahan melupakan cita-citanya sewaktu sekolah.
Salah satu cara memperbaiki perekonomian, atau sedikit orang yang mengejar mimpi lewat pendidikan adalah dengan pergi jauh ke luar desa atau merantau. Saya satu di antara anak desa yang saat kecil begitu ingin melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi hingga mengejar cita-cita sebagai seorang penulis, tetapi ketika mulai dewasa, saya sadar perekonomian keluarga tidak begitu baik untuk membiayai saya sampai ke perguruan tinggi.
Sejak lulus sekolah Madrasah Aliyah (MA), saya sama sekali tidak berpikir untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, saat itu pikiran saya hanya ingin pergi merantau untuk bekerja dan membantu perekonomian keluarga. Maka mulai merantau pada tahun 2009.
Merantau bukan hanya sekadar tradisi untuk anak-anak yang mulai dewasa di Cikeusal, kampung halaman saya. Setiap anak dewasa pergi meninggalkannya kampung halamannya untuk pendidikan, untuk membantu perekonomian keluarga, untuk mengadu nasib agar hidup lebih baik.
Secercah Harapan untuk Menggapai Mimpi
Hidup bekerja di perantauan, bisa membantu keluarga menghasilkan uang, dan menjalani hari-hari dengan rutinitas yang sama antara kost-kostan dan tempat kerja, dan waktu libur kerja dimaksimalkan dengan istirahat penuh seharian adalah potret yang saya jalani dalam beberapa tahun selepas merantau.
Beberapa pekerjaan sudah saya jalani, mulai dari dunia restoran, retail, marketing hingga expedisi. Sempat suatu ketika mulai terbesit kejenuhan dalam bekerja, terutama pekerjaan yang tidak tetap dengan sistem kontrak.
Setalah beberapa tahun bekerja, saya menyadari satu hal setiap kali habis kontrak dan menyiapkan surat lamaran pekerjaan, yaitu saya masih sama, hanya lulusan tingkat SMA dengan keterbatasan pekerjaan serta sedikit pengalaman.
Tiba-tiba saja terbersit sebuah mimpi untuk melanjutkan pendidikan. Apakah untuk mencari peluang lebih banyak di dunia kerja atau mengobati kejenuhan bekerja, atau justru membuka pola pikir yang lebih luas lagi lewat pendidikan.
Pada tahun 2015 tepatnya saya memulai bekerja di sebuah Agen JNE di daerah Gajah Mada, Jakarta Barat. Saya berkenalan dengan salah seorang pemimpin agen tersebut yang baru saja pensiun sebagai Supervisor area di JNE.
Seiring menjalani pekerjaan di dunia expedisi, saya melihat ada waktu dan juga kesempatan lebih untuk melanjutkan pendidikan. Maka mulailah memantapkan niat untuk melanjutkan pendidikan, sedikit menyisihkan uang, dan memilah -milih kampus yang tepat untuk agar bisa kuliah sambil bekerja.
Momen yang akan selalu saya kenang dalam hidup ketika saya mengatakan kepada kedua orang tua untuk melanjutkan pendidikan. Maklum saja, selama ini saya sibuk bekerja dan juga membantu orang tua di kampung dengan sedikit menyisihkan gaji bulanan. Kalau saya memutuskan untuk kuliah, pasti membutuhkan biaya lebih untuk diri sendiri, dan kemungkinan tidak bisa membantu perekonomian keluarga.
Butuh sebuah keberanian lebih untuk saya mengatakan kepada kedua orang tua untuk melanjutkan pendidikan. Maklum saja, saya tidak pernah mengatakan apapun perihal keinginan melanjutkan pendidikan. Dalam benak saya, bagaimana nantinya respon kedua orang tua, apakah mereka akan marah atau bingung karena keputusan saya yang tiba-tiba, atau justru menyerahkan semuanya kepada saya selagi masih bisa mengatur waktu, bekerja dan keuangan.
Satu hal yang membuat saya tersentuh sekaligus di luar dugaan, yaitu respon kedua orang tua. Mereka tampak begitu bahagia mendengarnya. Ada kebahagiaan yang berbeda dari kedua mata orang tua yang selama ini tidak pernah saya temukan ketika mulai membantu perekonomian keluarga.
Ternyata selama ini saya keliru, orang tua tidak pernah mengharapkan anaknya benar-benar membantu perekonomian keluarga hingga melupakan pendidikan dan masa depannya sendiri.
Pada tahun 2016, saya bulatkan tekad untuk melanjutkan pendidikan dengan mendaftar di salah satu universitas swasta yang berada di daerah Pamulang.
Setalah mempersiapkan semuanya, saya menghadapi ujian sesungguhnya di awal saat melangkah. Di pertengahan tahun ketika saya sudah mendaftar, kedua orang tua sakit dan dirawat secara bergantian. Hal tersebut membuat saya harus bolak-balik antara Jakarta dan Brebes.
Memulai atau Mengakhiri itu Pilihan
Waktu, uang, dan pekerjaan sepertinya memaksa saya pada satu pilihan yang sulit dalam hidup. Mimpi yang baru saya akan dimulai atau menerima kenyataan melepaskan mimpi itu demi menjaga kedua orang tua.
Kekalutan menerpa saya. Saya benar-benar merasa tidak berdaya dan pasrah pada sebuah keadaan. Saya harus mengikhlaskan satu hal untuk hal lain. Selepas shalat ashar, saya meneteskan air untuk pertama kali dalam hidup. “Pekerjaan bisa dicari, tetapi merawat kedua orang tua tidak akan datang berkali-kali.” Saya berucap kepada diri sendiri.
Setelah merenung, maka saya memutuskan memilih merawat kedua orang tua. Seminggu lebih saya di kampung halaman, saya tidak pernah mengatakan kepada kedua orang tua bahwa saya meninggalkan pekerjaan.
Tanpa pekerjaan dan kadung sudah daftar kuliah adalah hal rumit lain yang harus saya hadapi. Saya pernah bergumam dalam hati bahwa jika memang bukan rezekinya maka biarlah keduanya saya tinggalkan demi merawat kedua orang tua.
Bulan berganti, Alhamdulillah ternyata kondisi kedua orang membaik, mereka kerap menanyakan perkuliahan saya. Tinggal beberapa Minggu lagi untuk waktu awal saya masuk perkuliahan. Sebenarnya saya hampir tidak memikirkan pendidikan lagi , tapi kedua orang tua lebih tahu saya sekalipun lisan saya tidak mengata apapun. Meraka tidak berharap saya meninggalkan pendidikan yang baru saja akan dimulai dan menyuruh saya untuk kembali merantau demi melanjutkan mimpi saya dan mimpi mereka melihat anaknya menjadi sarjana.
Bermodal pesan orang tua, niat dalam hati, serta sedikit nekad, saya kembali merantau untuk memulai melanjutkan pendidikan yang sempat tertunda serta berharap mencari pekerjaan yang tepat agar bisa jalan berbarengan. Merantau kali ini terasa sangat berbeda, saya pergi menuju mimpi serta mencari rezeki di Ibu Kota.
Pada saat itu tengah ramai tentang pekerjaan sebagai ojek online. Saya harus tetap menghasilkan uang, dan jika menemukan pekerjaan dengan gaji bulanan, maka setiap hari saya tidak tahu akan mendapatkan uang dari mana untuk sekadar makan. Saya mendaftar ojek online untuk kebutuhan ekonomi dan untuk menyambung hidup di perantauan. Sebulan lebih saya bekerja sebagai driver ojek online untuk bertahan dan dan sambil terus mencari pekerjaan lain yang bisa berpenghasilan tetap untuk bisa tetap mengejar mimpi di pendidikan.
Suatu hari saya berkomunikasi dengan Pak Darmanto, mantan atasan di Jne Gajah Mada. Pak Darmanto mengabarkan bahwa ia baru saja membuka Agen JNE di daerah Jakarta Selatan, dan mengajak saya untuk bergabung dengannya memulai merintis dari awal untuk membuka Agen JNE.
Bergerak, Bertumbuh, dan Menggapai Mimpi di JNE
Tidak pernah terpikirkan sebelumnya, kemustahilan yang sempat saya ragukan menemukan jawaban. Saya bisa bekerja kembali serta memiliki penghasilan bulanan, juga memiliki kerja sampingan dan melanjutkan mimpi di dunia pendidikan.
Tentu saja saya percaya di balik itu semua ada doa-doa orang tua yang mengalir membarengi langkah saya agar tidak sendiri. Nyatanya saya melupakan satu hal yang sangat penting, yaitu melibatkan-Nya dalam keputusan dan keputusan yang saya alami. Tuhan menjawab dengan cara paling halus dan paling indah di waktu yang tepat.
Bersama salah satu agen JNE di Pondok Pinang inilah saya kembali menemukan beragam cerita, yang dapat mempertemukan saya dengan berbagai karakter pelanggan, menambah koneski dan relasi , juga dapat melihat berbagai kebahagiaan yang terpancar dari menghubungkan satu orang dengan orang lain lewat jasa pengiriman, hingga mempertemukan saya dengan mimpi yang bisa digapai lewat pendidikan.
Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berlelah-lelah dalam menggapai mimpi. Sungguh saya sangat menikmati proses demi proses dari mulai awal perkuliahan hingga akhirnya saya berhasil lulus pada tahun 2020. Saya mewujudkan mimpi kecil saya, mimpi kedua orang tua meskipun Ayah Saya tidak sempat menyaksikan anaknya menjadi sarjana karena sudah lebih dahulu meninggalkan kami semua, tapi saya yakin ia akan bahagia melihatnya.
Saya selalu bersyukur bisa menemukan pekerjaan yang membuat saya bertumbuh serta berkembang dan juga memberikan ruang pada mimpi saya untuk dikejar lewat pendidikan. JNE menjadi bagian dari perjalanan hidup dan juga rumah yang nyaman untuk bertumbuh setiap harinya. Tidak hanya itu, JNE juga menjadi salah satu pengantar kebahagiaan lain dari kebanggaan orang tua dan anaknya.
#ConnectingHappines
#JNE35BergerakBersama
#JNEcontencompetition2026
#JNEBeragamCerita

Komentar
Posting Komentar