Langsung ke konten utama

Postingan

Memaafkan adalah Cara Terbaik Memutus Rantai Kebencian Suatu sore, di saat senja mulai menampakan sedikit pesonanya menjelang gelap tiba. Di sebuah angkringan, beberapa pemuda tengah asik berbincang. "Eh, si A kan kakeknya dulu pernah maling ayam". Ucap Samin "Masih mending si A cucunya pencuri, daripada si B dulu bapanya pernah membunuh dan sampai sekarang masih di penjara". Sahut udin "Mereka sama aja, masih mendingan si C yang orang tuanya kaya raya". Ucap Bambang "Tapi katanya si C itu bapanya jadi kaya raya ngga wajar. Banyak yang bilang orang tuanya pakai pesugihan". Sahut Samin "Kalian ini sedang ngomingin ABC apa orang tuanya ya, kan yang jadi kepala desa bukan orang tuanya?" Tanya Ahmad Begitulah obrolan hangat di salah satu angkringan Desa Cisenja menjelang pemilihan kepala Desa. Ternyata cukup pelik juga melihat bibit bebet bobot para calonnya.Tapi anehnya orang-orang tidak membahas siapakah si A, siapakah ...
    Kemarin, Hari ini dan Esok Hari dalam Hidup yang Begitu Singkat. “Mimpi seorang anak manusia tidak ada akhirnya”. Itu adalah kalimat yang saya percayai sekarang. Berbicara tentang mimpi, tentu saja setiap anak memiliki mimpi yang berbeda,mimpi masa kecil adalah harta yang berharga dan begitu menyenangkan ketika diucapkan. Tidak heran jika mimpi-mimpi anak kecil begitu tinggi dan serasa seperti mudah sekali untuk didapati. Terlahir di sebuah desa kecil bernama Cikeusal yang terletak di kaki Gunung Kumbang, saya hidup seperti anak-anak pada umumnya. Suatu ketika saat berusia delapan tahun, di sebuah kelas seorang guru menanyakan mimpi dan cita-cita kami waktu itu. Di saat anak-anak lain menjawab ingin menjadi dokter, pilot atau bahkan Presiden, tapi saya menjawab ingin menjadi seorang penulis. Ada beberapa teman saya yang menertawakannya.  Entahlah pada waktu itu mungkin teman-teman saya berfikir bahwa seorang penulis itu hanya orang yang bisa menulis, seperti me...
                               Sebelum Senja Tiba, Awan-awan Menari Riang Gembira    Sore itu saya tiba di Taman Ismail Marzuki untuk menonton acara malam anugerah Hari Puisi Indonesia 2018 yang diselenggarakan  pukul 19.30 WIB. Bersama beberpa teman kampus, saya ingin menghadiri acar tersebut. Satu persatu teman-teman juga sudah mulai berdatangan ke Taman Ismail Marzuki. Waktu acara masih lama jadi kami meutuskan untuk duduk-duduk santai santi  berbincang-bincang. Obrolah yang dibahas tidak jauh seputar sastra dan perkuliahan hingga seputar pekerjaan  dan juga pengalaman. Di antara kami memang mayoritas sebagai karyawan swasta sambil kuliah di hari sabtunya. Salah satu teman saya, ada yang seorang wirausaha. Dia pun sempet menceritakan pengalamannya saat masih bekerja jadi karyawan, entah kenapa dia merasa tidak nyaman ketika bekerja sebagai karyawan swasta berapa pun penghas...
DI BALIK SESUATU YANG VIRAL     Hidup di Zaman Millenial membuat kita kecanduan akan gadget, salah satunya sosial media. Banyak aplikasi sosial media yang nyatanya memberikan pengaruh kepada si pengguna. Saya termasuk juga yang sering bermain sosial media. Whatsupp ,facebook,instagram, twitter, youtube adalah di antara sosial media yang saya ikuti. Dunia maya serasa menjadi ruang untuk kita mencurahkan segala sesuatu, meski memang tidak semua kita curahkan pada sosial media.    Dewasa ini sosial media benar-benar sarana yang sangat pas untuk beberapa orang mencari pasangan, mencari mata pencaharian tambahan bahkan menjadi terkenal atau yang sering disebut ''viral''. Ada banyak orang yang memiliki bakat tapi susah mempublikasikannya, maka sosial media membantunya mewujudkannya. Ada pula orang-orang yang menjadikan diri mereka sebagai model untuk memasarkan produk-produk tertentu (endorse). Bahkan ada pula yang viral karena ketidaksengajaan atau iseng belaka. ...
RINDU DI SELA JEDA Pagi ini aku merindukan sabtuku Kini aku telah sampai di setengah jalan Persimpangan antara impian dan kenyataaan Namun Jeda ini terlalu lama Aku takut jeda ini merubah tekad menjadi berkarat Aku takut jeda ini menambah sekat yang dekat Sore itu Senja menampakan pesonanya Aku melihat ada sesuatu yang berbeda Ada dua senja muncul pada semesta Senja yang diberikan Tuhan untuk menghangatkan raga Dan senja yang terpancar dari matanya yang memberikan kenyamanan pada jiwa Sabtu dan senja adalah alasan lain hidupku lebih berwarna Mereka tak perlu seirama Biarkan mereka berjalan dengan caranya menuju satu muara ( Pondok Pinang, 29 Juli 2018 )
Wajah Gelap Manusia Ke mana tanahku ? Kontras Bongkahan beton itu nampak berdiri kokoh  Tepat di antara pemandangan alam sekitar yang ramah Pemuda itu diam sejenak Saat itu dia memandang alam yang tertidur  Atau memang alam itu sebenarnya tak benar-benar terbangun Dia merasa alam sekitarnya sudah ternodai dengan gemerlap kota yang membayangi Kota telah menjadi medan pertempuran  Di mana yang kuat melawan yang lemah  Yang kaya menghisap buah kerja keras mereka yang miskin Beban berat duniawi telah membungkukkan punggung manusia Wajah tipis memperlihatkan bayang-bayang keputusasaan Bayang-bayang yang akan menggelapkan wajah manusia  Dari kecintaan kepada semesta CiptaanNYA (Pantai Indah Kapuk 06 Februari 2018)
Pulanglah Terkadang rindu itu tak tahu tempatnya Sesederhana kau merindukan suara serangga pedesaan Sementara kau berada di antara kemacetan metropolitan Sesederhana kau ingin melihat hamparan sawah-sawah  Sementara kau dikelilingi gedung-gedung nan megah Ah, mungkin sudah waktunya aku tuk sesekali menengok muara asal Kembali bercengkerama dengan alasanku pergi dari rumah Pulanglah.. Tak hanya sebatas mengobati rindu akan kampung halaman Tak hanya sekadar melihat rumah yang jadi tempat melepas lelah Namun ada senyum yang selalu merekah, saat berjumpa kembali dengan mereka yang menjadi penyemangatmu saat jauh dari rumah (Cikeusal 24 Juni 2018)